Selamat Datang di Meditasi Harian Walianglangi

Sunday, December 03, 2006

Sepenggal dari Matsnawi

Kalimat Pembabtisan Rumi
Dengar lagu seruling bambu menyampaikan kisah pilu perpisahan.Tuturnya, “Sejak aku berpisah dengan asal usulku, pokok bambu yang rimbun, ratapku membuat lelaki dan wanita mengaduh.”Kuingin sebuah dada koyak sebab terpisah jauh dari orang yang dicintai. Dengan demikian, dapat kupaparkan kepiluan berahi cinta.Setiap orang yang hidup jauh dari kampung halamannya akan merindukan saat-saat tatkala dia masih berkumpul dengan sanak keluarganya.Nada-nada senduku senantiasa kunyanyikan dalam setiap majelis pertemuan, aku duduk bersama mereka yang riang dan sedih.Rahasia laguku tidak jauh dari asal usul ratapku. Namun apakah ada telinga yang mendengar dan mata yang melihat ?Tubuh tak terdinding dari roh, pun roh tak terdinding dari tubuh. Namun, tak seorangpun diperbolehkan melihat roh.Bunyi seruling yang riuh ialah kobaran api, bukan desir angina yang berembus : mereka yang mempunyai api akan sia-sia hidupnya.Inilah api cinta yang tersembunyi dalam seruling bambu, inilah bara semangat cinta yang dikandung anggur.Seruling ialah sahabat mereka yang terpisah dari sahabat karibnya : lagunya menyayat kalbu.Siapa pernah melihat racun dan obat penawarnya sekaligus seperti seruling ? Siapa pernah menyaksikan orang berkabung dan pencinta menuturkan rindu dendamnya seperti seruling ?Seruling menyanyikan kisah jalan tergenang darah dan menyingkap lagi rindu dendam majenun.Hanya untuk mereka yang tidak mengerti pemahaman dan kepahaman disampaikan : Lidah tak mempunyai pelanggan selain telinga.Dalam pilu hari-hari hayat kami berlalu tak kenal waktu : Hari-hari kami berjalan bersama kepiluan membara.Kalau hari-hari kami mesti pergi, biarlah ia pergi ! Kami tidak perduli. Kekallah kau, sebab tiada sekudus Kau.Mereka yang tidak puas pada air-Nya bukanlah ikan : mereka yang tidak punya roti untuk makanan sehari-hari akan merasa betapa lamanya detik-detik waktu berjalan.Tidak ada barang mentah yang mengerti makna kemasakan. Karena itu, kini akan kuringkas kata-kataku ! Selamat Tinggal !
Delete It Cancel Cancel

Menghalau Kegetiran

Pagi ini aku sarapan dengan penuh kegetiran. Getir pada hidup yang menyebarkan aroma kapitalistiknya, yang mengangkangi manusia dalam riuh rendahnya pola hidup yang semakin asing. Aku terkesiap sendiri dalam lamunan, dalam hambarnya nasi putih yang kukunyah lumat-lumat. Ada kebisuan menyergapku. Pada setiap pagi hari dimana kita dituntut untuk mempertaruhkan hidup demi sebuah prestise !Aku teringat pada kegetiran tatkala sesuatu yang hambar masuk ke rongga mulutku. Ya, manusia semakin jauh melangkah dalam peradaban yang mungkin tidak diingininya. Sebuah tatanan yang tak pernah terlintas dibenaknya bahwa seperti inilah sesungguhnya hidup yang ideal itu. Ataukah memang bumi ditakdirkan estabilish, penuh kekacaubalauan dan ketidakberaturan. Dan kegetiran yang menyergap kita adalah perkara pribadi masing-masing. Bahwa dimanapun kita hidup, selalu menyisakan ketidaksempurnaan. Selalu ada kekacauan ! Dan persoalannya kumudian kembali kepada sejauh mana setiap individu menempa dirinya untuk terbebas dari setiap kegetiran dan kekacauan. Perkara system adalah garis takdir yang terbentuk oleh para inisiator dan para ideolog yang merancang system hidup ini menjadi sedemikian ekstrim. Oleh karena itu, biarlah mereka menanggung dosanya sendiri tanpa kita terlibat dalam hiruk pikik ini.Tapi apakah mungkin kita tidak terseret dalam arus deras ini, sementara kita makan, minum didalamnya. Kita bernafas megap-megap di pangkuannya ! Tak selamanya kedamaian itu adalah urusan personal melainkan ia adalah urusan system. Maka tak ada salahnya jika setiap individu yang sadar mulai membangun sistemnya sendiri secara holostik sehingga akan ada gelombang besar kesadaran menyergap setiap kegetiran yang menyinggahi sarapan pagi kita.Kang Jalal : “Penderitaan kita sekarang ini adalah perwujudan dari amal buruk sebagian bangsa kita. Beberapa orang di antara klita mengambil kekayaan Negara, dan jutaan orang harus membayar utang. Segelintir merusak hutan tetapi semua mahluk menderita”.

Monday, November 27, 2006

PERANG

Tak terdengar lagi desingan peluru persis ketika sang penjajah itu datang lagi ke negeri ini. Yang ada hanyalah gonggongan anjing pelacak yang bersungut-sungut disisi para algojo. Dan barisan prajurit kita yang dulu berteriak darah kini justru mengarahkan moncong senapannya kedada rakyat yang tak mengerti apa sesungguhnya arti sebuah kunjungan kenegaraan. Memang prajurit kini adalah robot yang dipelintir remotenya oleh Adidaya dunia. Perwira militer digembleng dalam pabrik mekanistik. senjata-senjata diproduksi dan dioperasikan dalam wilayah radar mereka. Beda dengan pejuang kita dulu yang lahir dari rahim rakyat. Bangkit berjuang dengan kegagahan penuh ketakjuban.Mereka bersenjatakan bambu runcing. Sungguh heroik, karena mereka tidak terjangkau poelacakan radar penjajah. Karena mereka tak dibawah gemblengan penjajah. Mereka bangkit melawan dengan kesadaran yang bersahaja. Tapi memukau batin mereka yang berpihak pada kebenaran.Di hari yang penmuh luka ini izinkan aku mengutyuk dengan kesadaran tertinggi kepada para rohaniawan yang mendukung para pecundang itu, bahkan pun kepada para pecundang itu sendiri !

Meyergap Prahara

Apa yang tersisa dari matamu selain sesal. Ketika tak sedetikpun kau biarkan aku berbicara. Sementara batinku bergejolak ingin menata kata-kata tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Tapi segalanya telah berubah. Angin menyergap kebisuan malam. Dedaunan berdesir menimbulkan bunyi yang merindingkan bulu roma. Pada setiap kenyataan yang tak terkatakan. Pada setiap kebenaran yang tak terungkap wujudiahnya. Aku mendesahkan gelisah yang tak sempat kau tangkap maksudnya. Sama sekali aku ingin acuh pada setiap kenyataan yang bersamamu. Pada setiap peristiwa yang menimpamu. Tapi aku tak bisa dengan begitu saja membiarkan engkau terjerat prahara yang dengannya engkau menderita. Hatiku tak tega mendengar jeritan kepiluan sebagaimana yang sudah sering aku dengar melalui relung-relung hidup yang sempat aku rekam dalam perjalanan mimpiku. Tapi sesalmu selalu datang ketika kesabaranku mulai semakin pupus. Untunglah air matamu meruntuhkan kebekuan tekadku untuk tetap mengadili sesalmu sampai kaupun tak sanggup lagi untuk kali lainnya, menyesal !

Sunday, November 26, 2006

Keheningan Menyesakkan Rindu

Terkadang dalam keheningan pada kedalaman batinku, aku menjeritkan pertaubatan. Ada rindu yang menyesak di sana. Keharuan lahir dari rindu berkepanjangan. Sehingga terkaparlah tubuh ringkihku sesunggukan dalam terror diam bisuku. Kenapa keheningan selalu menyimpan potensi yang teramat menyiksa. Padahal kita terlahir dari posisinya yang melimpah. Padahal ia menyisakan ruang untuk mengatakan cinta. Ya! Cinta selalu meregang diri dalam hening yang terperih. Ketika mata mengalirkan air mata yang tak juga duka.
Di sini aku bertanya padamu : adakah tersisa semacam cerita dipelupuk matamu sehingga engkau begitu menghindari pertemuan ini. Pertemuan yang sesungguhnya adalah perjumpaan. Ya! Perjumpaan antara dua hati yang sekiranya tak terlahir dari heningnya cinta maka dia tak kan saling kenal mengenal. Sementara tatapan liarmu mengingatkan aku pada kebencian yang melekat di sela-sela derita yang tak putus menyerang. Siapa sesungguhnya yang tidak setia antara dua hati yang pada awalnya punya derajat yang sama. Hati yang dilekati seonggok kebencian atau hati yang darinya derita memuntahkan pilu. Tak ada juga yang patut dipersalahkan. Karena sesungguhnya segalanya masih simpang siur di tengah kemelaratan pemahaman tentang hidup yang dikerdilkan oleh manusia kuasa yang ambigu.

Jubah Yang Hembuskan Berkah Cintanya

Mendengar kembali lagu lama berarti mengungkit kenangan terpendam. Dulu ketika heroisme beragama mulai dihembuskan melalui perkaderan, gelora jiwa muda mencitrakan dirinya menjadi sedemikian militan. Ada keteguhan dalam prinsip. Ada harapan dalam cita-cita. Ada goresan pengalaman setiap hari yang begitu membekas. Pada setiap episode dimana kerja-kerja yang disebut perjuangan itu menorehkan sejarahnya, setiap itu pula lagu alam mengiring geraknya. Bahkan lagu alam dalam bentuknya yang paling bersahaja seperti semilir angin, ada suatu ketika kita merasakan desir angin yang sama sebagaimana dulu ketika suatu peristiwa terjadi. Apalagi ketika lagu itu berwujud aransemen bunyi-bunyian yang harmoni. Tentu lebih membekas lagi kenangan yang bisa diungkapnya.
Hidup berarti secara otomatis kita bergerak merekam setiap peristiwa yang dibundel menjadi episode kehidupan. Ada yang mengharukan, ada pula yang menegangkan. Ada yang menyenangkan adapula yang menyakitkan. Bahkan ada suatu masa ketika kita pernah merasakan hati sedemikian berbunga-bunga hanya karena berdekat-dekatan dengan akhwat dibalik tabir, atau karena menyaksikan kemunculan segerombolan mereka berjalan keluar pintu gerbang dengan jubah-jubah kebesarannya. Perasaan berbunga-bunga mungkin ungkapan melankolis, tapi sesungguhnya lebih pada sikap ketakjuban yang menggebu. Pada semilir angin kedamaian yang menyebarkan aroma cinta, pencerahan dan kesejatian yang menghembuskan berkah sepoi-sepoinya melalui jubah mereka yang berkibar.