Meyergap Prahara
Apa yang tersisa dari matamu selain sesal. Ketika tak sedetikpun kau biarkan aku berbicara. Sementara batinku bergejolak ingin menata kata-kata tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Tapi segalanya telah berubah. Angin menyergap kebisuan malam. Dedaunan berdesir menimbulkan bunyi yang merindingkan bulu roma. Pada setiap kenyataan yang tak terkatakan. Pada setiap kebenaran yang tak terungkap wujudiahnya. Aku mendesahkan gelisah yang tak sempat kau tangkap maksudnya. Sama sekali aku ingin acuh pada setiap kenyataan yang bersamamu. Pada setiap peristiwa yang menimpamu. Tapi aku tak bisa dengan begitu saja membiarkan engkau terjerat prahara yang dengannya engkau menderita. Hatiku tak tega mendengar jeritan kepiluan sebagaimana yang sudah sering aku dengar melalui relung-relung hidup yang sempat aku rekam dalam perjalanan mimpiku. Tapi sesalmu selalu datang ketika kesabaranku mulai semakin pupus. Untunglah air matamu meruntuhkan kebekuan tekadku untuk tetap mengadili sesalmu sampai kaupun tak sanggup lagi untuk kali lainnya, menyesal !


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home