Selamat Datang di Meditasi Harian Walianglangi

Sunday, December 03, 2006

Menghalau Kegetiran

Pagi ini aku sarapan dengan penuh kegetiran. Getir pada hidup yang menyebarkan aroma kapitalistiknya, yang mengangkangi manusia dalam riuh rendahnya pola hidup yang semakin asing. Aku terkesiap sendiri dalam lamunan, dalam hambarnya nasi putih yang kukunyah lumat-lumat. Ada kebisuan menyergapku. Pada setiap pagi hari dimana kita dituntut untuk mempertaruhkan hidup demi sebuah prestise !Aku teringat pada kegetiran tatkala sesuatu yang hambar masuk ke rongga mulutku. Ya, manusia semakin jauh melangkah dalam peradaban yang mungkin tidak diingininya. Sebuah tatanan yang tak pernah terlintas dibenaknya bahwa seperti inilah sesungguhnya hidup yang ideal itu. Ataukah memang bumi ditakdirkan estabilish, penuh kekacaubalauan dan ketidakberaturan. Dan kegetiran yang menyergap kita adalah perkara pribadi masing-masing. Bahwa dimanapun kita hidup, selalu menyisakan ketidaksempurnaan. Selalu ada kekacauan ! Dan persoalannya kumudian kembali kepada sejauh mana setiap individu menempa dirinya untuk terbebas dari setiap kegetiran dan kekacauan. Perkara system adalah garis takdir yang terbentuk oleh para inisiator dan para ideolog yang merancang system hidup ini menjadi sedemikian ekstrim. Oleh karena itu, biarlah mereka menanggung dosanya sendiri tanpa kita terlibat dalam hiruk pikik ini.Tapi apakah mungkin kita tidak terseret dalam arus deras ini, sementara kita makan, minum didalamnya. Kita bernafas megap-megap di pangkuannya ! Tak selamanya kedamaian itu adalah urusan personal melainkan ia adalah urusan system. Maka tak ada salahnya jika setiap individu yang sadar mulai membangun sistemnya sendiri secara holostik sehingga akan ada gelombang besar kesadaran menyergap setiap kegetiran yang menyinggahi sarapan pagi kita.Kang Jalal : “Penderitaan kita sekarang ini adalah perwujudan dari amal buruk sebagian bangsa kita. Beberapa orang di antara klita mengambil kekayaan Negara, dan jutaan orang harus membayar utang. Segelintir merusak hutan tetapi semua mahluk menderita”.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home