Selamat Datang di Meditasi Harian Walianglangi

Monday, November 27, 2006

PERANG

Tak terdengar lagi desingan peluru persis ketika sang penjajah itu datang lagi ke negeri ini. Yang ada hanyalah gonggongan anjing pelacak yang bersungut-sungut disisi para algojo. Dan barisan prajurit kita yang dulu berteriak darah kini justru mengarahkan moncong senapannya kedada rakyat yang tak mengerti apa sesungguhnya arti sebuah kunjungan kenegaraan. Memang prajurit kini adalah robot yang dipelintir remotenya oleh Adidaya dunia. Perwira militer digembleng dalam pabrik mekanistik. senjata-senjata diproduksi dan dioperasikan dalam wilayah radar mereka. Beda dengan pejuang kita dulu yang lahir dari rahim rakyat. Bangkit berjuang dengan kegagahan penuh ketakjuban.Mereka bersenjatakan bambu runcing. Sungguh heroik, karena mereka tidak terjangkau poelacakan radar penjajah. Karena mereka tak dibawah gemblengan penjajah. Mereka bangkit melawan dengan kesadaran yang bersahaja. Tapi memukau batin mereka yang berpihak pada kebenaran.Di hari yang penmuh luka ini izinkan aku mengutyuk dengan kesadaran tertinggi kepada para rohaniawan yang mendukung para pecundang itu, bahkan pun kepada para pecundang itu sendiri !

Meyergap Prahara

Apa yang tersisa dari matamu selain sesal. Ketika tak sedetikpun kau biarkan aku berbicara. Sementara batinku bergejolak ingin menata kata-kata tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Tapi segalanya telah berubah. Angin menyergap kebisuan malam. Dedaunan berdesir menimbulkan bunyi yang merindingkan bulu roma. Pada setiap kenyataan yang tak terkatakan. Pada setiap kebenaran yang tak terungkap wujudiahnya. Aku mendesahkan gelisah yang tak sempat kau tangkap maksudnya. Sama sekali aku ingin acuh pada setiap kenyataan yang bersamamu. Pada setiap peristiwa yang menimpamu. Tapi aku tak bisa dengan begitu saja membiarkan engkau terjerat prahara yang dengannya engkau menderita. Hatiku tak tega mendengar jeritan kepiluan sebagaimana yang sudah sering aku dengar melalui relung-relung hidup yang sempat aku rekam dalam perjalanan mimpiku. Tapi sesalmu selalu datang ketika kesabaranku mulai semakin pupus. Untunglah air matamu meruntuhkan kebekuan tekadku untuk tetap mengadili sesalmu sampai kaupun tak sanggup lagi untuk kali lainnya, menyesal !

Sunday, November 26, 2006

Keheningan Menyesakkan Rindu

Terkadang dalam keheningan pada kedalaman batinku, aku menjeritkan pertaubatan. Ada rindu yang menyesak di sana. Keharuan lahir dari rindu berkepanjangan. Sehingga terkaparlah tubuh ringkihku sesunggukan dalam terror diam bisuku. Kenapa keheningan selalu menyimpan potensi yang teramat menyiksa. Padahal kita terlahir dari posisinya yang melimpah. Padahal ia menyisakan ruang untuk mengatakan cinta. Ya! Cinta selalu meregang diri dalam hening yang terperih. Ketika mata mengalirkan air mata yang tak juga duka.
Di sini aku bertanya padamu : adakah tersisa semacam cerita dipelupuk matamu sehingga engkau begitu menghindari pertemuan ini. Pertemuan yang sesungguhnya adalah perjumpaan. Ya! Perjumpaan antara dua hati yang sekiranya tak terlahir dari heningnya cinta maka dia tak kan saling kenal mengenal. Sementara tatapan liarmu mengingatkan aku pada kebencian yang melekat di sela-sela derita yang tak putus menyerang. Siapa sesungguhnya yang tidak setia antara dua hati yang pada awalnya punya derajat yang sama. Hati yang dilekati seonggok kebencian atau hati yang darinya derita memuntahkan pilu. Tak ada juga yang patut dipersalahkan. Karena sesungguhnya segalanya masih simpang siur di tengah kemelaratan pemahaman tentang hidup yang dikerdilkan oleh manusia kuasa yang ambigu.

Jubah Yang Hembuskan Berkah Cintanya

Mendengar kembali lagu lama berarti mengungkit kenangan terpendam. Dulu ketika heroisme beragama mulai dihembuskan melalui perkaderan, gelora jiwa muda mencitrakan dirinya menjadi sedemikian militan. Ada keteguhan dalam prinsip. Ada harapan dalam cita-cita. Ada goresan pengalaman setiap hari yang begitu membekas. Pada setiap episode dimana kerja-kerja yang disebut perjuangan itu menorehkan sejarahnya, setiap itu pula lagu alam mengiring geraknya. Bahkan lagu alam dalam bentuknya yang paling bersahaja seperti semilir angin, ada suatu ketika kita merasakan desir angin yang sama sebagaimana dulu ketika suatu peristiwa terjadi. Apalagi ketika lagu itu berwujud aransemen bunyi-bunyian yang harmoni. Tentu lebih membekas lagi kenangan yang bisa diungkapnya.
Hidup berarti secara otomatis kita bergerak merekam setiap peristiwa yang dibundel menjadi episode kehidupan. Ada yang mengharukan, ada pula yang menegangkan. Ada yang menyenangkan adapula yang menyakitkan. Bahkan ada suatu masa ketika kita pernah merasakan hati sedemikian berbunga-bunga hanya karena berdekat-dekatan dengan akhwat dibalik tabir, atau karena menyaksikan kemunculan segerombolan mereka berjalan keluar pintu gerbang dengan jubah-jubah kebesarannya. Perasaan berbunga-bunga mungkin ungkapan melankolis, tapi sesungguhnya lebih pada sikap ketakjuban yang menggebu. Pada semilir angin kedamaian yang menyebarkan aroma cinta, pencerahan dan kesejatian yang menghembuskan berkah sepoi-sepoinya melalui jubah mereka yang berkibar.